Review X-Men: Apocalypse

X-Men: Apocalypse adalah trilogi kedua dari seri X-Men milik 20th Century Fox. Seperti halnya film X-Men yang pernah dibuat sebelumnya, film ini dipenuhi dengan sejumlah besar karakter mutant, baik maupun jahat, yang bertemu dan bertarung secara masif. Apakah skema umum seperti ini tetap berhasil untuk film X-Men terbaru ini?

Sebelum saya memulai ulasan film ini, saya ingin memberikan sedikit latar belakang saya dengan serial fiksi bernama X-Men. Sebagai anak yang besar di tahun 90an, X-Men adalah cerita fiksi superhero yang melekat dengan saya. Memang sebelumnya, sewaktu saya kecil, cerita seperti Batman ataupun Superman telah saya kenal terlebih dulu. Namun, X-Men lah yang membuat saya menyukai cerita superhero pada awalnya. Mulai dari komik, serial animasi, bahkan kartu koleksi saya kumpulkan demi memuaskan kesenangan saya dengan cerita-cerita X-Men.

Maju ke beberapa tahun kemudian, di awal 2000an, Hollywood lewat studio 20th Century Fox meluncurkan film aksi X-Men pertama. Boleh dibilang, film X-Men pertama yang disutradarai Bryan Singer ini adalah tonggak awal dari film komik superhero besar yang diangkat menjadi film blockbuster Hollywood di era milenium kedua.

Trilogi Film-Film X-Men

Nah film X-Men: Apocalypse ini adalah film keenam untuk seri X-Men, atau bisa dibilang film ketiga dari trilogi kedua X-Men. Bingung? Jadi begini, trilogi pertama film X-Men dimulai dari film X-Men, X-Men 2, lalu ditutup dengan X-Men: The Last Stand (film X-Men yang paling flop). 20th Century lalu sedikit “hiatus” dengan seri ini untuk kembali memulai dengan trilogi kedua, X-Men: First Class, X-Men: Days of Future Past (DoFP), dan X-Men: Apocalypse ini. Trilogi kedua ini semacam tombol reset terhadap trilogi pertama. Dalam arti, lewat trilogi kedua, cerita dan karakter X-Men pada trilogi pertama dianggap tidak pernah ada lagi (semuanya dijelaskan pada film X-Men DoFP, maka tontonlah).Nah, mudah-mudahan sudah dapat gambaran ya.

Pada X-Men: Apocalyse diceritakan 10 tahun telah berlalu sejak kejadian-kejadian yang terjadi pada film X-Men: DoFP. Professor Charles Xavier (James McAvoy), mulai menjalakan program pendidikan sekolah untuk anak-anak mutan muda dalam satu masa yang relatif damai. Semuanya kemudian berubah ketika seorang mutant kuno nan kuat bernama Apocalypse (Oscar Isaac) muncul ke permukaan. Ia memiliki ambisi untuk menghancurkan dunia yang sekarang untuk kemudian dibangun kembali sesuai dengan rancangannya. Untuk menjalankan rencananya ini, ia merekrut empat mutan kuat sebagai pengikutnya, yang dinamakan dengan “The Four Horsemen”.

new-xmen

Pada film ini, penonton kembali diperkenalkan dengan tokoh-tokoh legenda X-Men seperti Jean Grey (Sophie Turner), Cyclops (Tye Sheridan), Nightcrawler (Kodi Smith-McPhee) dalam versi mudanya. Bisa dibilang, film ini menjadi origin story ulang buat karakter-karakter X-Men yang sudah dikenal sebelumnya.

Kita juga akan menemui tokoh X-Men yang telah menjadi tokoh sentral pada film-film sebelumnya seperti Magneto, Raven/Mystique, Quicksilver, dan juga Hank McCoy. Film ini akan menjelaskan apa saja yang terjadi pada hidup mereka 10 tahun belakangan.

Tentunya ada mutan-mutan baru seperti Storm, Psylocke, serta Angel yang akan menjadi mutan jahat anak buah Apocalypse.

Permasalahan Yang Muncul

Seperti biasa, permasalahan dalam sebuah film superhero dengan banyak tokoh seperti ini adalah ketidakmampuan plot untuk lebih mendalami latar dari masing-masing karakter. Hal ini terjadi juga pada film X-Men: Apocalypse. Demi menjaga kestabilan plot yang maju, pengenalan mengenai tokoh dibuat tidak terlalu mendalam. Saya sih tidak terlalu bermasalah, karena saya seperti sudah mengenal hampir semua dari mereka, baik lewat cerita-cerita komik maupun dari film-film sebelumnya. Namun, mungkin ini menjadi masalah bagi para penonton yang baru menonton film ini tanpa punya background tentang X-Men sama sekali.

Untuk suatu film masif dengan banyak karakter, baik ataupun jahat, umumnya kejadiannya akan berujung pada satu adegan perkelahian yang spektakuler penuh dengan efek dan ledakan-ledakan. Ini juga yang terjadi. Sayangnya, adegan pamungkas perkelahian antara The Four Horsemen dan X-Men generasi baru ini cenderung biasa saja dan klise. Tidak banyak hal baru yang diperlihatkan Bryan Singer, sang sutradara yang mustinya sudah “khatam” X-Men, yang bisa membuat saya berdecak kagum.

apoc

Ditambah pula dengan karakter Apocalypse, sebagai penjahat utama yang terlihat satu dimensi. Tidak memiliki motif yang kuat dan tidak terlalu menakutkan, serta berbahaya, dibanding karakter aslinya di komik.

Satu hal terakhir yang bermasalah pada film ini adalah film ini tidak bisa dinikmati sebagai satu film tunggal untuk mengerti keseluruhan cerita. X-Men: Apocalypse lebih seperti sebuah episode dalam suatu seri epik kolosal bernama X-Men. Anda perlu mengikuti dan mengerti cerita dari film sebelumnya agar Anda tidak bingung. Seperti yang telah saya sebut di atas, saya sih tidak masalah, tapi bagi para penonton film lepas yang ingin melihat sebuah film aksi nan menarik, mungkin akan agak bingung dengan cerita dan tokoh-tokoh yang muncul pada film ini tanpa banyak kejelasan.

Jadi Gimana Pat?

Kalau dibaca di atas ya, kayaknya saya kurang suka dengan film ini? Wah tunggu dulu, sebagai fans X-Men saya menyukai film ini! Bisa dibilang sekali lagi Bryan Singer memberikan semacam fan service yang tepat bagi penggemar X-Men seperti saya. Ekspektasi besar saya terhadap film ini terbayarkan dengan film yang relatif bagus, sekalipun dengan kelemahan-kelemahan yang saya sebutkan di atas. Paling tidak, film ini setingkat dengan film sebelumnya, X-Men: Days of Future Past.

Comments

comments

 

Patrick

Si Patrick ini kalau tidak lagi ribet bekerja, senang sekali gangguin anak-anaknya. Ya mau gimana, habis mereka lucu sih. Terkadang juga si Patrick akan menulis dari sudut pandang orang ketiga seperti ini. Biar keliatan keren aja sih. Keren gak? Iyain aja ya. Iya