Jakarta will always be my favorite city (despite all those traffic and constant chaos in the streets). Here’s a piece written by Aksara Sophiaan from AREA Magazine that list down some of the things you must do to experience Jakarta as a whole cultural bonanza. It’s like one of those “N things to do before you die” minus the die part ….
Known most for its heavy traffic, Jakarta is hardly a typical escapist destination and likelier to be recognized as an economic fortress of the nation. Regardless so, as a melting pot of a variety of culture, Jakarta is founded on the belief of universal functions and aesthetics–a philosophy expected to unify one of the most populated and diversed countries in the world.
by the way, I love this one:
11. Ride on an ontel bicycle to explore Jakarta’s old, historic places: Gedung Mandiri, VOC Galangan, Pelabuhan Sunda Kelapa and many others.
(thanks Icha!
)
July 28th, 2009 by Patrick G van Diest | tidbits | Tags: cultural, jakarta, streets | Comments Off
Sewaktu menulis post ini saya agak kegerahan, padahal saya ada di ruangan ber-AC. Ya, tema lingkungan hidup lagi, tema “hijau” lagi. Bosan tidak? Mudah-mudahan jangan bosan ya?

Jadi begini, pada tanggal 7 Desember 2009 nanti, para petinggi dunia rencananya akan berkumpul di Copenhagen, Denmark. Mereka akan menggelar apa yang dinamakan dengan UN Climate Change Conference atau Konferensi Perubahan Iklim 2009.
Kegiatan konferensi global yang diadakan setahun sekali ini umumnya membahas mengenai topik perkembangan iklim dunia dan bagaimana negara-negara menyikapinya. UN Climate Change Conference sudah menghasilkan sejumlah ketetapan global yang terkenal seperti “Protokol Kyoto”. Telah banyak ratifikasi berkaitan dengan preservasi lingkungan yang dihasilkan dalam setiap konferensi ini. Indonesia sendiri pernah menjadi tuan rumah konferensi pada tahun 2007 dulu, tepatnya di Nusa Dua Bali.
Untuk mengampanyekan konferensi ini kepada dunia, UN bersama dengan partnernya dari International Advertising Association membuat suatu gerakan yang dinamakan dengan Hopenhagen:
Hopenhagen is a movement created by the United Nations together with the International Advertising Association and a coalition of the world’s leading advertising, marketing and media agencies to empower global citizens to ensure the world’s leaders make the right choices for our planet and our future.
Konsep yang diangkat gerakan ini menurut saya sangat pintar. Mereka memajukan tema “Hope” atau harapan. Mereka ingin menancapkan ide bahwa dari gerakan dan konferensi ini akan ada satu harapan baru bagi kita semua. Harapan adanya usaha baru dari manusia dalam menyikapi perubahan iklim dan lingkungan hidup untuk membuat planet bumi menjadi lebih baik lagi
Pada website Hopenhagen, Anda diberikan kesempatan berinteraksi dengan menjawab pertanyaan: “Apa yang memberikan Anda pengharapan untuk planet yang lebih baik?”. Di situ Anda bisa melihat jawaban-jawaban dari pengguna lain secara real-time.
Ini baru langkah awal dari gerakan Hopenhagen (satu permainan kata yang cukup lucu menurut saya), akan ada lagi inisiatif-inisiatif baru dari Hopenhagen sambil menyambut UN Climate Change Conference di bulan Desember 2009. Tentunya sepak terjang gerakan yang menarik ini perlu diamati lebih lanjut.
Bacaan lebih lanjut:
(via @chibialfa)
July 22nd, 2009 by Patrick G van Diest | Global Things | Tags: climate change, environment, green, ratification | 1 Comment »
Jika Anda sekarang berumur 20 tahun atau lebih, Anda mungkin pernah bersua dengan mesin console yang dinamakan dengan NES (Nintendo Entertainment System). Di Indonesia sendiri, console ini populer dinamakan dengan nama “Nintendo”.

Javier Segovia lewat situs komunitas Behance Network mengeluarkan suatu gambar konsep mesin NES yang telah ia modifikasi menjadi bentuk yang lebih futuristis. Desain konsepnya ini ia namakan dengan reNESED. Jika dilihat, konsep desain reNESED ini menurut saya sangat keren. Sayang sekali ini masih dalam bentuk konsep saja. Adakah dari pembaca yang tertarik mengimplementasikannya menjadi modifikasi langsung? Saya bersedia membelinya jika memang benar-benar ada.
(via @tirarenton)
July 21st, 2009 by Patrick G van Diest | Notes | Tags: desain, konsep, nintendo | Comments Off